Fotografi Double Exposures sebagai Media Ilustrasi Penyampaian Pesan
oleh:
Achmad Oddy Widyantoro, M.Sn
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Email: [email protected]
Abstrak
Kehadiran fotografi sebagai sarana komunikasi telah mencapai tingkat kredibilitas yang tinggi karena dapat mereproduksi realitas dalam suatu cara yang objektif. Teks visual yang muncul terkesan tidak ada perbedaan antara imaji yang dihadirkan dengan ‘realitas’ yang diwakilinya. Sebuah foto secara praktis dipersepsikan menghadirkan kembali realitas visual yang menggambarkan realitas objek yang direkam oleh kamera itu sendiri. Penciptaan karya seni berkaitan erat dengan pengalaman individual seseorang yang meliputi pengalaman intrinsik dan ekstrinsik, yakni keseluruhan pengalaman hidup yang berkaitan dengan relasi antara individu dan lingkungan seperti alam yang kemudian diekspresikan dalam bentuk karya visual. Pengalaman tersebut selanjutnya dijadikan sumber ide. Fotografi portrait merupakan jenis fotografi yang paling banyak diabadikan dalam kegiatan dimasyarakat secara luas. Fotografi ini dapat dikembangkan secara khusus menjadi fotografi portrait yang kontemporer dan memuat lebih dari satu representasi pesan. Yang dimaksudkan adalah fotografi portrait yang dikembangkan dengan teknik double exposures. Dengan teknik tersebut, dua realitas ataupun lebih bisa disatukan dalam satu karya fotografi portrait. Foto portrait yang dikemas dengan teknik fotografi double exposures ini memiliki keterkaitan yang erat dengan bidang sosiologi khususnya teori hermeneutika. Teori hermeneutika ini berguna dalam memahami hubungan antara pencipta karya, obyek dan penikmat karya tentang pesan yang disampaikan.
Kata kunci: portrait, double exposures, realitas visual, penyampaian pesan, hermeneutika.
FULL TEXT: Prosiding Buku 3 Konferensi Nasional Komunikasi 2017 (Borneo) hal 193
